Ilustrasi kopi pait. (Net)
KOPI PAIT
Oleh : Asep Syahmid
Opini, BogorUpdate.com – Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI yang dilakukan sejatinya harus menjadi landasan pacu untuk menata ulang tata kelola organisasi, manajemen, pembibitan dan pembibitan talenta-talenta olahraga yang telah dilakukan selama ini.
Perhelatan Musorkablub KONI Kabupaten Bogor jangan dijadikan ajang “Euforia” atau kegembiraan sesaat karena telah terjadinya pergantian pucuk pimpinan atau kepengurusan KONI.
Perlu digaris bawahi, ajang Musorkablub bukanlah Sebuah Pesta untuk bagi-bagi Porsi dan Posisi !!!!
Musorkablub KONI harusnya menjadi bahan Kontemplasi terhadap apa yang telah terjadi. Musorkablub harus dijadikan tonggak sejarah baru olahraga Kabupaten Bogor menjadi lebih maju, lebih kompak dan lebih punya tujuan utama dalam melakukan tata kelola olahraga Bumi Tegar Beriman.
Hal terpenting semua kebijakan dan program yang akan dilakukan KONI Kabupaten Bogor harus sejalan atau selaras dengan program Pemkab Bogor dalam bidang keolahragaan.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto sudah mencanangkan tagline Kabupaten Bogor sebagai Episentrum Olahraga Nasional baik dalam pola pembinaan dan pembibitan atlet yang dilakukan semua cabor ataupun sebagai pusat event olahraga nasional.
Kabinet KONI hasil Musorkablub ini harus bisa menterjemahkan semua harapan dari program Pemkab atau Bupati Bogor dalam sector Keolahragaan.
Kepengurusan KONI Kabupaten Bogor kedepan punya PR (Pekerjaan Rumah) yang sangat berat. Namun semua persoalan itu bisa terurai jika dari awal sudah dilakukan mitigasi masalah yang harus dilakukan dengan tepat sasaran.
Menelisik mitigasi masalah dalam tubuh KONI bisa menyasar pada beberapa aspek seperti, pentingnya transparansi pengelolaan tata keuangan anggaran hibah yang bersumber dari APBD, manajemen olahraga serta koordinasi terpadu antar stakholder olahraga baik itu KONI, Pengurus Cabor dan Dispora dalam hal pembinaan prestasi.
Transparansi anggaran hibah sangat wajib dilakukan mitigasi supaya tidak terjadi penggunaan anggaran hibah yang tidak tepat sasaran.
Salah satu upaya mitigasi agar tidak terjadi penyalahgunaan anggaran hibah, maka pengurus KONI harus menggelar pemeriksaan rutin terhadap kegiatan cabang olahraga. Jika ini dilakukan maka tidak akan terjadi temuan kegiatan fiktif yang dilakukan cabor.
Tata kelola ataupun penataan manajemen organisasi dan SDM yang akan menjadi bagian Kabinet KONI, alangkah eloknya dalam penyusunan Kabinet KONI mampu menghindari budaya Nepotisme ataupun memasukan pengurus karena didasari hanya faktor kedekatan tanpa dibarengi dengan kompetensi yang mumpuni.
Sudah seharusnya daerah Kabupaten Bogor yang kaya akan SDM keolahragaan, memiliki Kabinet KONI yang dibangun dengan Pondasi Profesionalisme yang kuat hingga berdampak positif pada efektifitas pembinaan prestasi.
Kabinet KONI Kabupaten Bogor kedepan, harus memanfaatkan kelebihan dan daya dukung fasilitas lengkap serta anggaran hibah keolahragaan dari APBD Kabupaten Bogor dan juga daya dukung kekayaan SDM Keolahragaan yang melimpah.
Arah dan tujuan dari KONI Kabupaten Bogor harus bisa menterjemahkan program Bupati Bogor dalam bidang keolahragaan.
Semua cabor anggota KONI juga harus punya grand design pembinaan jangka menengah dan jangka panjang, hingga mampu melahirkan para atlet juara dari rahim pembinaan sendiri.
Jika semua cabor punya Grand Design pembinaan sendiri, maka setidaknya cabor tersebut punya Jumlah Atlet binaan, punya pelatih berlisensi, program dan jadwal latihan, tempat latihan, Durasi latihan yang dilakukan, punya program event yang akan diikuti tiap tahunnya dan juga punya Kesekretariatan yang jelas.
Ketua KONI Kabupaten Bogor yang baru harus punya waktu dan program turun langsung mengecek program latihan atau monitoring ke tempat latihan semua cabang olahraga.
Hal tersebut untuk membuktikan ada atau tidaknya program pembinaan, pembibitan dan latihan yang dilakukan cabor !!!
Apabila tidak ada program pembinaan dan tidak ada Aktifitas latihan cabor. Selain itu jika ditemukan cabor tidak punya atlet binaan, maka ini harus segera dilakukan evaluasi dan sikapi dengan tegas lewat pembekuan SK Cabornya.
Ada tidaknya aktifitas pembinaan dan latihan berkelanjutan kepada atlet binaan sendiri, harus menjadi parameter dalam pemberian bantuan uang pembinaan cabor yang bersumber dari APBD Kabupaten Bogor.
KONI Kabupaten Bogor kedepan, harus merubah Format atau Skema bantuan uang pembinaan cabor yang harus berbasis Prestasi Atlet dan juga berdasarkan data ada atau tidaknya program pembinaan dan latihan yang dilakukan berkelanjutan.
Pemberian uang pembinaan cabor harus berkeadilan dan bukan mengacu pada faktor kedekatan semata antara Ketua cabor dengan Ketua KONI.
Untuk menghindari Konflik Kepentingan, maka jajaran KSB (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) yang ada di cabor jangan rangkap jabatan dengan masuk kabinet KONI.
Kalau mau masuk Kabinet KONI, maka harus rela lepaskan posisinya sebagai KSB di Cabor. Ayo saatnya Kabupaten Bogor tancapkan Pondasi Profesionalisme dalam tata kelola KONI kedepan. (*)
The post Musorkablub Bukan Sebuah Pesta (Bagian Ke-1) appeared first on Bogor Update.